ContenT:
- and another... (1)
- Breaking The Thought (2)
- For Human and Muslim Soul (3)
- sekitar kita (2)
Kebijaksanaan Nabi Isa as.
Kemudian orang itu terdiam. Akan tetapi salah seorang lainnya berkata, "di zaman Nabi Zakaria, kehidupan di sini sangat tenteram dan aman, tetapi sekarang di masa kenabianmu, sering terjadi kerusuhan." Tanpa marah, Nabi Isa menjawab, "memang betul. Sebab di masa Nabi Zakaria umatnya seperti saya, sedangkan di masa sekarang, umatnya seperti kamu semuanya." Akhirnya, kedua orang tersebut merasa kehabisan kata-kata untuk membantah jawaban dari Nabi Isa.
Di lain kesempatan, Nabi Isa bertanya kepada murid-muridnya. "kalau kamu melihat aurat saudaramu terbuka secara tidak sengaja, misalnya saat lagi tidur, apa yang akan kamu lakukan? Menutup kembali auratnya, atau dibuka sekalian biar terlihat seluruh auratnya?" para muridnya menjawab, "tentu kami akan menutup auratnya".
"begitulah seharusnya sebagai orang yang beradab." Kata nabi Isa. "Tetapi, sering kali orang membongkar aib saudaranya, dan diceritakan ke mana-mana. bukanlah itu sama saja menelanjanginya. Dan kalau aib tersebut sudah sampai ke telinga orang banyak, bisa jadi orang yang punya aib tersebut malu dan menjadi nekat untuk berbuat maksiat sekalian karena terlanjur malu kembali ke masyarakat. Maka, jangan sekali-kali membongkar dan menceritakan aib saudaramu dan membeberkannya ke tengah orang banyak. Orang yang punya aib seharusnya diberi peringatan dan nasihat secara bijaksana agar mau bertobat."
Green Street Hooligans
Mereka menyanyikan mars tim kesayangannya, duduk berpencar, tidak pernah melewatkan tim kesayangannya bertanding, dan selalu siap fisik untuk beradu otot kalau saja timnya kalah. Ya, itulah Hooligans. Hooligans identik dengan supporter asal inggris yang hobbi berantem, kalau enggak ya buat rusuh. Tapi dewasa ini hooligans sudah menjadi bahasa global yang menunjuk pada setiap supporter brutal dalam sepakbola.
Para hooligans memang dirancang untuk beradu fisik dengan hooligans lainnya. Tujuan utama mereka adalah Cuma bikin rusuh dan berantem. Hooligans sedikit banyak berbeda dengan ultras. Dalam mendukung timnya, ultras memang dianggap lebih santai daripada hooligans. Para ultras lebih senang nonton bareng-bareng dengan mengenakan atribut-atribut tim kesayangannya, berbeda dengan Hooligans yang jarang mengenakan atribut-atribut. Meski ultras terlihat lebih damai, tapi mereka juga bakalan buat rusuh kalau tim mereka diremehkan. Seperti dalam kaosnya persija yang dikenakan temen saya pas latihan futsal : eloe asik gue santai, eloe usik gue bantai...
Hooligans yang terkenal beringas kebanyakan ada di inggris, maklumlah emang sono tempat munculnya para hooligans. Mereka yang disebut seringnya supporter Liverpool. Bisa saja stereotipe itu muncul pas kerusuhan Heysel Belgia. Ceritanya, di final liga champion tahun 80-an (agak lupa tepatnya taun berapa) yang mempertemukan Juventus kontra Liverpool. Kedua supporter tim saling ejek yang memicu kerusuhan dan berakibat pada jebolnya tembok pembatas supporter yang menghasilkan 39 korban jiwa tewas. UEFA menyatakan supporter Liverpool bersalah atas insiden tersebut. parahnya, FA berupaya menarik wakilnya dari turnamen klub Eropa karena maraknya aksi kekerasan suporter. Sejak itu, nama Inggris mulai disebut-sebut sebagai penghasil hooligans paling berbahaya di daratan Eropa. Kisah Hooligans Inggris pernah difilmkan, yang terkenal judulnya Green street hooligans yang dibintangi Ellijah Wood sebagai supporter Wetsham united.
Kini, kebrutalan hooligans tidak hanya terjadi di inggris. Sekarang kepolisian Polandia mulai melirik para Hooligans negeri tersbut lantaran mereka mulai menjadi para kriminal-kriminal dalam stadion. Dalam pertandingan antar klub eropa (saya lupa pas kompetisi apa itu) antra ac.parma kontra wisla krakaw, lemparan pisau supporter wisla tepat mengenai pelipis pemain parma, dino baggio. Karena insiden itu, baggio harus mendapat lima jahitan di pelilipisnya. Belum lagi aksi lempar supporter terhadap wasit, serta teror yang sering ditujukan pada sang pengadil di lapangan.
Kita nyebrang ke Amerika Selatan. Di brasil, supporter bolanya gak kalah brutal dari eropa, malahan lebih gila!!! Memang dalam adu fisik para supporter lebih bangga dengan tangan kosong, atau paling banter ya saling lempar batu. Tapi jangan harap tenang-tenang saja di perjalanan, para supporter tamu sering dihantui peluru panas supporter tuan rumah selama perjalanan datang dan pulang.
Penghancur Agama
1. Tidak mengamalkan apa yang diketahui.
Allah Swt. telah mencela orang yang banyak tahu agama, bahkan banyak ngomong masalah agama, tetapi tidak melaksanakan apa yang dia ketahui dan sering dia diomongkan: Sungguh besar kebencian Allah karena kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan (TQS ash-Shaff [61]: 3).
Lebih dari itu, banyak tahu agama tetapi tidak mengamalkannya adalah sia-sia. Sebabnya, Allah Swt. menilai seseorang bukan dari ilmunya (yang banyak), tetapi dari amalnya: (Dialah Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji manusia, siapa yang terbaik amalnya (TQS al-Mulk [67]: 2).
Dalam ayat ini, Allah menggunakan frasa ahsanu-’amala (amal terbaik), bukan aktsaru-’ilma (ilmu terbanyak). Maknanya, sebagaimana kata Nabi saw., "Selalu waspada (wara’) terhadap larangan-larangan Allah dan senantiasa bersegera menjalankan ketaatan kepada-Nya." (Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, XVIII/207).
Karena itu, sangat disayangkan jika orang banyak tahu agama tetapi sedikit mengamalkan agamanya. Misal: Masih banyak Muslim yang tahu bahwa shalat, shaum dan zakat itu wajib, namun mereka tidak melaksanakannya. Banyak Muslimah yang tahu menutup aurat/berjilbab itu wajib, tetapi enggan melakukannya. Banyak pejabat, pegawai pemerintah, polisi, jaksa, hakim dll yang tahu suap dan korupsi itu haram/dosa, namun mereka tetap melakukannya. Banyak Muslim yang tahu bahwa menegakkan syariah Islam itu wajib, tetapi tidak berusaha memperjuangkannya, seolah-olah itu bukan urusannya. Banyak ulama yang tahu menegakkan Khilafah itu wajib. Mereka pun tahu kewajiban menegakkan Khilafah itu merupakan Ijmak Sahabat dan ijmak para ulama salafush-shalih. Namun, alih-alih berusaha menegakkannya, bahkan ada yang menganggap upaya tersebut tidak relevan untuk saat ini, ’memecah-belah’, ’mengancam’ NKRI, dll. Banyak tokoh kiai yang tahu bahwa riba itu haram tetapi tidak pernah mencegah Pemerintah yang nyata-nyata berutang ke luar negeri dengan bunga (riba) yang sangat ’mencekik’. Banyak pula aktivis dakwah yang tahu menjaga amanah dan memelihara akad itu wajib, tetapi sering melalaikan dan mengabaikannya.
2. Mengamalkan apa yang tidak diketahui.
Tidak sedikit orang yang awam agama melakukan banyak hal yang dia sendiri tidak tahu status hukumnya; apakah halal atau haram. Misal: Tidak sedikit Muslim berbisnis saham/valas, melakukan transaksi kredit barang lewat lembaga leasing seperti menjamur saat ini, terlibat dalam bisnis asuransi, menjadi staf keuangan bank berbasis riba, mengadu untung dalam kuis via sms, dll. Tidak sedikit Muslim/Muslimah yang memandang baik profesi sebagai artis (penyanyi, penari, pemain film/sinetron dll)—yang biasanya akrab dengan atraksi membuka aurat, berkhalwat dan ber-ikhtilat, serta ragam maksiat lainnya; bahkan mereka berlomba-lomba meraihnya. Tidak sedikit pula Muslim yang memandang mulia demokrasi dan HAM, mempraktikkannya, bahkan bangga menjadi pejuangnya. Semua itu mereka lakukan karena mungkin tidak tahu keharamannya. Padahal Rasulullah saw. telah bersabda (yang artinya), "Siapa saja yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak kami perintahkan, maka tertolak (haram, pen.)." (HR Muslim).
3. Tidak mencari tahu apa yang tidak diketahuinya.
Banyak Muslim/Muslimah yang sadar dirinya awam dalam agama, tetapi tidak terdorong untuk mempelajari dan mendalami agama (taffaquh fi ad-din). Mereka seolah enjoy dengan kebodohannya dalam agama. Tidak sedikit pula hal ini melanda para aktivis dakwah. Misal: tidak sedikit aktivis dakwah yang malas belajar bahasa Arab, padahal mereka tahu mempelajarinya sangat urgen dalam upaya memahami agama demi bekal dakwah mereka; bahkan mereka tahu di antara faktor kemunduran umat adalah karena diabaikannya bahasa Arab.
4. Menolak orang yang mengajari apa yang tidak diketahuinya.
Tidak sedikit Muslim yang—karena kesombongannya—menolak ketika orang lain mengajari (baca: mendakwahi)-nya. Padahal Rasulullah saw. telah bersabda (yang artinya), "Sombong itu menolak kebenaran." (HR Muslim dan Abu Dawud).
Tidak sedikit pula yang enggan belajar kepada orang lain hanya karena orang lain itu lebih muda, karena lebih rendah tingkat pendidikan formalnya, karena dari kelompok/mazhab/harakah/partai yang berbeda, atau karena faktor-faktor lain.
******
Keempat hal di atas memang telah menghancurkan agama pada diri seorang Muslim ataupun di tengah-tengah masyarakat.
Akibatnya nyata: Hukum-hukum Allah dicampakkan dan dijauhkan. Hukum-hukum thaghut diterapkan dan dilestarikan. Kewajiban-kewajiban agama banyak ditinggalkan. Larangan-larangannya sering dilakukan dan bahkan jadi kebiasaan. Yang halal disembunyikan. Yang haram ditonjolkan. Yang sunnah enggan diamalkan. Yang bid’ah malah dibesar-besarkan. Adat menjadi ibadat. Ibadat bercampur dengan khurafat dan maksiat.
Demikianlah, akhirnya Islam sekadar sebutan; al-Quran sekadar jadi bacaan; as-Sunnah pun terlupakan.
Saat itu, sebagaimana isyarat Nabi saw., Islam kembali menjadi sesuatu yang asing, persis sebagaimana awal kedatangannya. Sabda Nabi saw. "Islam mulanya datang sebagai sesuatu yang asing dan nanti akan kembali dianggap asing. Berbahagialah orang-orang yang dipandang asing, yakni mereka yang selalu melakukan perbaikan-perbaikan di tengah-tengah masyarakat yang berlomba-lomba melakukan kerusakan-kerusakan." (HR Ahmad).
Wama tawfiqi illa billah. [Arief B. Iskandar]
(from da’wah and politic magazine Al-Wa’ie)


